SEMARANG, 10 Juni 2026 – Dalam upaya memperkuat komitmen sebagai satuan pendidikan yang adaptif dan merangkul keberagaman, SMP Islam Hidayatullah menggelar kegiatan “Pendampingan Pengawas Sekolah: Rencana dan Pembelajaran Inklusi”. Acara ini berlangsung pada hari Rabu, 10 Juni 2026, mulai pukul 13.00-15.30 WIB bertempat di Ruang Meeting SMP-SMA Islam Hidayatullah, Semarang.
Kegiatan strategis ini menghadirkan pakar pendidikan sekaligus pengawas sekolah, Dr. Nur Ziada, M.Pd., sebagai narasumber. Adapun sasaran utama dari pembekalan ini adalah seluruh guru mata pelajaran (mapel) serta guru Bimbingan Al-Qur’an (BAQ) di SMP Islam Hidayatullah.
Acara dibuka dengan khidmat melalui serangkaian agenda formal, mulai dari pembukaan, pembacaan tilawah Al-Qur’an, hingga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebelum memasuki sesi pemaparan materi inti.
Dalam sambutannya, pihak kepala sekolah SMP Islam Hidayatullah, Reni Dria Susandari, S.Pd., menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada pemateri.
“Pembekalan ini merupakan kebutuhan krusial bagi SMP Islam Hidayatullah demi memberikan pendampingan yang tepat, adil, dan berkualitas bagi seluruh siswa inklusi,” ungkap Ibu Reni.
Memahami Ruang Lingkup Keberagaman Peserta Didik
Ibu Nur Zaida menekankan “Pendampingan yang tepat terhadap siswa inklusi akan sangat membantu siswa dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga penting pembekalan untuk para guru sebelum proses pembelajaran berlangsung.”
Dalam paparannya, Dr. Nur Ziada, M.Pd. membedakan hambatan belajar menjadi dua kategori besar yang wajib dipahami oleh tenaga pendidik, yakni:
- Hambatan Permanen: Kondisi yang diakibatkan oleh gangguan fisik, sensorik, mental, dan/atau intelektual yang bersifat menetap.
- Hambatan Temporer: Kondisi hambatan non-permanen yang dipicu oleh faktor eksternal (seperti bencana alam, trauma wabah, dll) yang memengaruhi kondisi psikologis atau fisik anak untuk sementara waktu.
Dalam pendampingan berupa bimbingan teknis ini, Ibu Nur Zaida Mengupas tuntas klasifikasi dan kebutuhan spesifik Murid Penyandang Disabilitas (MPD), di antaranya:
- Tunanetra (Hambatan Penglihatan): Memerlukan pembelajaran huruf Braille, keterampilan Orientasi, Mobilitas, Komunikasi, dan Sosial (OMSK), perabaan langsung, serta pengoptimalan indera pendengaran.
- Tunarungu (Hambatan Pendengaran): Membutuhkan Alat Bantu Dengar (ABD), latihan bahasa isyarat, bahasa oral (bicara), maupun komunikasi total. Tips Praktis: Guru disarankan mendudukkan siswa tunarungu di barisan paling depan agar mereka lebih mudah membaca pergerakan bibir guru saat menjelaskan.
- Tunagrahita (Hambatan Intelektual): Anak dengan kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Pendidikan diarahkan pada pengembangan potensi optimal agar mereka bisa hidup mandiri dan beradaptasi dengan lingkungan.
- Slow Learner (Lamban Belajar): Fokus pendampingan adalah membangun kepercayaan diri siswa serta memahami dengan jeli apa kelemahan utama mereka dalam menyerap materi.
- Tunadaksa (Hambatan Fisik): Pembelajaran bertujuan melatih kemampuan akademik yang dibarengi dengan latihan berpindah tempat (mobilitas) serta latihan aktivitas sehari-hari (ADL) agar siap berbaur di masyarakat atau dunia kerja.
- Hambatan Mental (Emosi & Perilaku): Memerlukan penataan lingkungan yang kondusif, modifikasi kurikulum yang tidak kaku/keras, penyesuaian bakat minat, serta penguatan akhlak melalui pembiasaan sehari-hari.
- Autis: Guru dituntut terampil memodifikasi lingkungan belajar yang nyaman agar perilaku anak terkendali, serta mengembangkan strategi belajar kelompok dan ekspresi verbal.
- CIBI (Cerdas Istimewa Bakat Istimewa): Membutuhkan pengayaan horizontal (eksplorasi mendalam) dan pengayaan vertikal (percepatan/acceleration serta belajar mandiri).
- Kesulitan Belajar Spesifik: Intervensi dilakukan dengan Teknik Multi Sensori, yaitu metode pembelajaran yang melibatkan seluruh indera untuk memaksimalkan gaya belajar unik anak.
Lebih lanjut Ibu Nur Zaida mengajak para guru mencoba langsung membuat RPI (Rencana Pembelajaran Individu) untuk dipresentasikan dan dikritisi bersama.
Melalui bimbingan teknis ini, SMP Islam Hidayatullah berharap seluruh jajaran pendidik semakin siap melahirkan ekosistem belajar yang ramah, tidak diskriminatif, dan mampu memfasilitasi setiap anak untuk tumbuh sesuai dengan fitrah dan potensinya masing-masing.






