Salah satu siswa terbaik SMP Islam Hidayatullah Semarang, Caka Haidar Raifanaqie Pravianto, sukses menorehkan prestasi gemilang pada ajang olahraga pelajar POPDA Provinsi Jawa Tengah 2026. Caka berhasil membawa pulang Medali Perak. Prestasi prestisius di tingkat provinsi pada cabang olahraga menembak ini digelar di Lapangan Tembak GOR Jatidiri, Semarang pada hari Sabtu, 5 September 2026.
Prestasi ini tidak hanya membanggakan dirinya sendiri, tetapi juga melambungkan nama SMP Islam Hidayatullah Semarang di panggung olahraga regional.
Persaingan Ketat Antar Kabupaten dan Kota
Setiap peserta yang turun di POPDA Jateng 2026 merupakan perwakilan terbaik yang sudah lolos seleksi ketat di tingkat kota atau kabupaten masing-masing. Oleh karena itu, persaingan di papan skor sangatlah rapat. Satu poin atau miliinklinasi posisi perkenalan peluru sangat menentukan siapa yang berhak berdiri di atas podium juara.
Profil Caka Haidar: Disiplin Latihan dan Manajemen Akademis yang Hebat
Keberhasilan Caka Haidar Raifanaqie Pravianto meraih Medali Perak tidak didapatkan secara instan. Di balik presisi tembakannya yang memukau, ada pengorbanan waktu dan energi yang luar biasa, terutama dalam menyeimbangkan kewajibannya sebagai seorang pelajar tingkat akhir di SMP Islam Hidayatullah.
Rutinitas Latihan yang Intensif dan Kekuatan Doa
Persiapan intensif Caka dimulai dengan lama berlatih selama 1 bulan penuh. Memasuki fase krusial, ia menggenjot upayanya dengan latihan secara rutin mulai dari 3 minggu sebelum lomba. Setiap sesi latihan digunakan secara maksimal untuk mengasah memori otot (muscle memory), kontrol napas, dan stabilitas tangan saat memegang senjata.
Namun, Caka sadar bahwa usaha fisik saja tidak cukup. Di samping kerja kerasnya di lapangan tembak, ia selalu mengiringi setiap langkahnya dengan berdoa kepada Allah SWT, memohon ketenangan jiwa dan kelancaran saat bertanding.
Tantangan Terbesar: Menjaga Nilai Akademis di Masa Dispensasi
Sebagai siswa kelas 9C yang sedang menghadapi tahun krusial kelulusan sekolah, tantangan terbesar bagi Caka adalah membagi waktu dan mempertahankan nilai akademis. Demi fokus membela nama daerah di ajang provinsi, Caka harus mengambil dispensasi pelajaran selama 1 minggu penuh untuk mengikuti pemusatan latihan dan perlombaan.
Meninggalkan kelas selama seminggu tentu berpotensi membuat seorang siswa tertinggal materi pelajaran. Namun, berkat kedisiplinan tingkat tinggi, Caka berkomitmen untuk tetap belajar secara mandiri di sela-sela waktu istirahat lombanya demi memastikan nilai akademisnya di SMP Islam Hidayatullah tidak merosot.
Momen Mendebarkan: Detik-Detik Pengumuman Skor Akhir
Cabang olahraga menembak adalah olahraga yang sangat menguras mental karena atlet harus mengontrol emosi mereka sendiri. Caka mengungkapkan bahwa momen paling mendebarkan adalah saat melihat pengumuman total skor dan juara.
Setelah seluruh peluru dilepaskan, ketegangan berpindah ke papan pengumuman digital. Menunggu rekapitulasi poin dari para juri di tengah ketatnya selisih skor dengan atlet dari daerah lain membuat jantung berdegup kencang. Ketika namanya resmi diumumkan sebagai peraih Medali Perak POPDA Jateng 2026, rasa tegang tersebut langsung berubah menjadi rasa syukur yang luar biasa.
Kolaborasi Support System: Sinergi Sekolah, Keluarga, dan Lembaga
Prestasi tingkat provinsi ini berhasil diraih berkat adanya jaring pengaman dukungan (support system) yang sangat solid dari berbagai pihak yang peduli terhadap bakat Caka.
Izin dan Doa dari SMP Islam Hidayatullah
Pihak sekolah, SMP Islam Hidayatullah Semarang, memberikan kelancaran penuh dengan memberikan izin untuk dispensasi agar Caka bisa berkompetisi dengan fokus. Tidak hanya dukungan administratif, jajaran guru dan teman-teman di sekolah juga terus mensupport dan mendoakan untuk keberhasilan Caka dalam lomba ini, menciptakan motivasi spiritual yang kuat bagi dirinya.
Fasilitas dan Apresiasi dari PERBAKIN/Dispora
Dukungan profesional juga datang dari tingkat kelembagaan. Caka mendapatkan fasilitas dari PERBAKIN (Persatuan Menembak dan Berburu Seluruh Indonesia) atau Dispora berupa pemberian uang saku selama perlombaan. Fasilitas ini menjadi bentuk apresiasi nyata dari pemerintah dan organisasi olahraga terhadap dedikasi serta kerja keras para atlet pelajar yang berjuang mengharumkan nama daerah.

