Semarang, Jum’at 9 Oktober 2026, Ajang pesta demokrasi pelajar di SMP Islam Hidayatullah Semarang mencapai puncaknya melalui gelaran Debat Kandidat Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS Masa Bakti 2026-2027. Acara adu argumentasi dan pemaparan Visi Misi dan Program Kerja ini berlangsung pada hari Jumat, 9 Oktober 2026 bertempat di Aula MFB (Multifunction Building) Hidayatullah Semarang dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. Rangkaian debat ini menjadi ruang penting untuk menguji kapasitas mental, ketajaman visi, serta kecakapan retorika dari tiga pasangan calon (Paslon) pemimpin baru OSIS.
Kemeriahan acara debat dipandu secara apik oleh duet MC Caka Haidar Rainafaqie Pravianto (Kelas 9C) dan Kirana Alisavia Maheswari (Kelas 9F). Prosesi debat dibuka dengan khidmat lewat pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Rifqi Muhammad Azzami (Kelas 9A) dan Nadhifa Nur Faiza (Kelas 9F), yang kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta Mars Hidayatullah dipimpin oleh Dirigen Sabreea Jenara Azaria Asnan (Kelas 9D). Debat ini menjadi filter utama bagi seluruh warga sekolah sebelum menyalurkan hak suaranya pada agenda pemungutan suara yang akan digelar pasca Sesi Debat .
Sambutan Kepala Sekolah: Menggali Potensi Paslon Lewat Prinsip LUBER JURDIL
Sebelum adu gagasan dimulai, Kepala SMP Islam Hidayatullah Semarang, Reni Dria Susandari, S.Pd., memberikan sambutan sekaligus arahan strategis bagi seluruh civitas akademika yang memenuhi Aula MFB yang sejuk dan nyaman.
Menakar Kualitas Melalui Orasi Pemilos
Reni Dria Susandari, S.Pd. menyampaikan bahwa setelah seluruh siswa menyimak penyampaian visi misi dan program kerja tertulis pada hari Senin, 5 Oktober 2026 lalu, maka momentum debat hari ini adalah saat yang tepat untuk menggali potensi terdalam dari masing-masing paslon secara objektif. Melalui jawaban-jawaban spontan di atas panggung, kualitas kepemimpinan yang autentik dari para kandidat akan terlihat jelas.
Penegasan Prinsip Pemilu dan Anti-Bullying
Kepala Sekolah berpesan kepada seluruh siswa selaku calon pemilih untuk menentukan pilihan yang paling layak berdasarkan kombinasi pemaparan visi misi serta performa debat para kandidat. Beliau menegaskan bahwa proses pemilihan harus didasarkan pada prinsip LUBER (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia) dan JURDIL (Jujur dan Adil) demi menjaga kerahasiaan hak suara setiap individu.
Selain itu, beliau memberikan imbauan keras untuk menghindari fenomena perundungan (bullying) serta intimidasi selama proses Pemilos berlangsung. Perbedaan pilihan politik di lingkungan sekolah harus disikapi secara bijaksana tanpa mengorbankan persatuan. Selanjutnya, mekanisme teknis debat dan pencoblosan dipandu oleh Ibu Novida Isna Hunnisa Suzantiko, S.Pd. selaku Pembina MPK (Majelis Perwakilan Kelas) yang membagi debat ke dalam tiga sesi utama: pertanyaan panelis, tanya jawab antar-paslon, dan sesi interaksi dengan warga sekolah.
Poin Inti Adu Gagasan: Jawaban Strategis Tiga Paslon Terhadap Pertanyaan Panelis
Panggung debat memanas ketika ketiga paslon berhadapan dengan tiga panelis sekolah, yaitu Panelis 1 (Ibu Reni Dria Susandari, S.Pd.), Panelis 2 (Ibu Eko Bunga Emi Marisa, S.Pd.), dan Panelis 3 (Bapak Sutasmin, S.Pd.). Berikut adalah rangkuman poin inti dari jawaban masing-masing kandidat:
1. Kunci Keteladanan, Adab, dan Tanggung Jawab Siswa
- Paslon 1 (Eza Daffarel Bramantya dari 8C dan Batrisya Raihanah Prabowo dari 8E): Menegaskan bahwa kelolosan mereka dalam proses seleksi kandidat sudah membuktikan kapasitas mereka sebagai teladan. Kepantasan tersebut akan terus ditunjukkan melalui realisasi program kerja secara bertanggung jawab.
- Paslon 2 (Kenzie Zavair dari 8B dan Alana Freya dari 8E): Berpandangan bahwa keteladanan tidak harus dimulai dari hal besar, melainkan dari konsistensi melakukan hal-hal kecil seperti menaati peraturan sekolah dan disiplin harian.
- Paslon 3 (Tristan Abraham Rihan dari 8A dan Tatum Avisa Orvala dari 8D): Menekankan pentingnya menjaga adab, rutin melakukan introspeksi diri, serta berkomitmen penuh menjalankan tugas kepengurusan OSIS sesuai dengan amanah yang diemban.
2. Program Kerja Unggulan pada 1 Bulan Pertama Kepengurusan
- Paslon 1: Menghadirkan program PodSPEISH (Podcast) sebagai ruang terbuka bagi siswa untuk menyampaikan aspirasi, saran, kritik, serta evaluasi langsung bagi pengurus OSIS.
- Paslon 2: Berfokus pada optimalisasi ruang digital sekolah yang akan dimanfaatkan secara maksimal sebagai sarana penyaluran aspirasi siswa.
- Paslon 3: Mengunggulkan program Classmeeting yang dikemas secara interaktif untuk melatih kerja sama tim sekaligus mengasah kemampuan public speaking siswa.
3. Solusi Studi Kasus: Menghadapi Penolakan Usulan Program oleh Sekolah
- Paslon 1: Memilih untuk mencari akar permasalahan utama ditolaknya usulan tersebut, kemudian berembuk bersama seluruh pengurus untuk mencari alternatif program lain dengan mempertimbangkan keberatan dari sekolah.
- Paslon 2: Berkomitmen memisahkan urusan organisasi dengan beban luar, mendiskusikan alasan penolakan secara mendalam, lalu memperbaiki usulan tersebut demi mencari jalan tengah.
- Paslon 3: Berupaya mencari alternatif solusi dan mencari tahu penyebab program tidak di-ACC untuk kemudian mengkolaborasikan secara apik antara aspirasi siswa dan kebijakan sekolah.
4. Tindakan Nyata Mengatasi Pelanggaran Kerapian Siswa Saat Piket Pagi
- Paslon 1: Memulai dari introspeksi diri dan mengingatkan kedisiplinan internal pengurus. Siswa yang melanggar akan ditegur langsung, dan jika pelanggaran terus berulang akan dilaporkan ke bidang Kesiswaan.
- Paslon 2: Menerapkan sistem keteladanan berlapis dengan mengadakan sidak internal kepada seluruh pengurus OSIS 15 menit sebelum mereka mulai bertugas menjaga piket pagi.
- Paslon 3: Menggagas pembuatan surat komitmen siswa; memberikan kesempatan hingga 3 kali pelanggaran sebelum akhirnya dikoordinasikan lebih lanjut dengan Wali Kelas masing-masing.
Strategi Paslon Menghadapi Isu Lingkungan, Ibadah, dan Kemampuan Bahasa Inggris
Panelis 3, Bapak Sutasmin, S.Pd., melayangkan pertanyaan tajam mengenai rendahnya kepedulian siswa terhadap kebersihan lingkungan (membuang sampah sembarangan), ketidakdisiplinan ibadah, serta langkah taktis mewujudkan kecakapan bahasa Inggris di sekolah.
Solusi Karakter Lingkungan dan Disiplin Ibadah
- Paslon 1: Menawarkan program Free Trash Day untuk mengubah sampah menjadi karya seni estetis. Terkait disiplin ibadah, mereka akan bekerja sama dengan ekstrakurikuler Rohis untuk mendeteksi siswa yang melanggar.
- Paslon 2: Berfokus pada pembangunan sistem ibadah yang menyenangkan agar kesadaran religius tumbuh secara natural tanpa paksaan.
- Paslon 3: Menggagas gerakan Cleanest of The Month untuk melatih kompetisi kebersihan antar-kelas.
Strategi Akselerasi English Skill
- Paslon 1 dan Paslon 2: Sepakat untuk mengaktifkan iklim kompetisi berkala melalui pengadaan lomba kebahasaan seperti Story Telling dan Speech Contest, serta penerapan pembiasaan bahasa Inggris secara bertahap.
- Paslon 3: Mengambil langkah ekstrem dengan mengoptimalkan penggunaan bahasa Inggris penuh setiap hari Kamis (English Day) dan berkomitmen tidak merespon pembicaraan yang menggunakan bahasa Indonesia pada hari tersebut.
Tensi Tinggi Sesi Tanya Jawab Antar-Paslon dan Respons Warga Sekolah
Sesi kedua membawa atmosfer debat menjadi lebih dinamis ketika masing-masing paslon saling melemparkan pertanyaan terbuka mengenai independensi organisasi, manajemen waktu akademis, hingga isu limbah makanan.
Pertanyaan Paslon 1 tentang Independensi: Menjawab pertanyaan ini, Paslon 2 menegaskan bahwa mereka akan berpendapat mandiri dan tidak selalu mengikuti perintah kakak kelas pengurus lama. Sementara Paslon 3 memilih melakukan evaluasi objektif mengenai hal yang baik dan kurang tepat agar tidak didominasi senior.
Pertanyaan Paslon 2 tentang Manajemen Akademis: Paslon 1 berkomitmen tetap menjadikan akademis sebagai prioritas utama. Di sisi lain, Paslon 3 menyiasatinya dengan mencari waktu koordinasi organisasi di luar jam KBM agar pelajaran tidak terganggu.
Pertanyaan Paslon 3 tentang Kemubadziran Makanan: Paslon 1 menawarkan solusi pengecekan berkala pada rak katering untuk dilaporkan ke pihak sekolah, sedangkan Paslon 2 memilih berkolaborasi dengan pihak kantin untuk menyediakan porsi yang sesuai dengan kebutuhan siswa lewat gerakan “Habiskan Makananmu”.
Respons Terhadap Pertanyaan Kritis Warga Sekolah
Debat diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif bersama audiens. Annaisa Naja (9D) mempertanyakan kesungguhan realisasi visi. Paslon 1 berjanji mengoptimalkan proker lewat evaluasi rutin dengan komitmen penuh, sementara Paslon 2 menekankan pentingnya kolaborasi internal agar pengurus memiliki satu persepsi dan rutin berkonsultasi dengan sekolah.
Pertanyaan pamungkas datang dari Maftuh Izza (kelas 9C) mengenai langkah konkret jika ada pengurus OSIS yang terbukti melakukan perundungan. Paslon 1 menyatakan akan mengonfirmasi kedua belah pihak dan menjembatani masalah. Tindakan lebih tegas dipaparkan oleh Paslon 2 yang berkomitmen menindak pelaku tanpa pandang bulu, mengamankan posisi korban, dan langsung melaporkan oknum pengurus tersebut ke pihak sekolah karena OSIS harus menjadi teladan utama bagi siswa lain. Paslon 3 akan memberikan konsekuensi tegas dan jika masih berlanjut, akan mengkomunikasikan ke sekolah untuk mencari solusi bersama.
Pasca-debat usai, acara dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan secara simbolis kepada ketiga panelis dan ditutup dengan penampilan performance lagu yang meriah dari perwakilan siswa.
Usai Ajang Debat, Pemilos SMP Islam Hidayatullah dilaksanakan secara bergiliran per kelas sesuai dari jam 10.20-11.30 WIB. Tidak ketinggalan seluruh guru dan karyawan juga berpartisipasi aktif menyumbangkan suaranya dengan ikut mencoblos salah satu paslon pilihan mereka.
Agenda berikutnya adalah penghitungan suara yang dilakukan panitia di Aula MFB jam 13.15-15.00 WIB dengan disaksikan oleh siswa kelas 8 untuk menjaga transparasi dan kejujuran hasil penghitungan pencoblosan. Hasil akhir menunjukkan posisi pemilih terbanyak diraih oleh paslon 1 yakni Eza Daffarel Bramantya dari kelas 8C dan Batrisya Raihanah Prabowo dari kelas 8E.
Harapannya Ajang Debat PEMILOS kali ini memberikan wawasan kehidupan berdemokrasi, membiasakan siswa berpikir kritis, dan saling menghargai perbedaan pendapat dan pilihan.




















