SEMARANG –Dalam rangka menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, SMP Islam Hidayatullah (SMPIH) Semarang menyelenggarakan seminar “ROOTS” Duta Anti Perundungan bertajuk “Peran Nyata Agen ROOTS Wujudkan Sekolah Bebas Bullying.” Kegiatan edukatif yang diikuti oleh anggota ROOTS kelas 8 dan 9 ini berlangsung pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertempat di Ruang Meeting SMA Islam Hidayatullah, mulai pukul 12.40 hingga 15.00 WIB.
Seminar ini menghadirkan Desi Maulia, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang merupakan Koordinator Psikolog PUSPAGA Semar sekaligus Kepala Pusat Studi Kependudukan, Perempuan, dan Perlindungan Anak – LPPM UPGRIS, sebagai pemateri. Acara yang bertema “Dari Suara Menjadi Aksi: Peran Nyata Agen ROOTS Wujudkan Sekolah Bebas Bullying”, ini bertujuan membekali para siswa agar mampu mengenali, mencegah, dan menangani tindakan perundungan di lingkungan sekolah.
Mengenal Perundungan dan Offside Jokes
Dalam pemaparannya, Ibu Desi Maulia menjelaskan bahwa perundungan merupakan perilaku agresif yang tidak diinginkan, melibatkan ketimpangan kekuatan, dan terjadi secara berulang. Perundungan dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari fisik, verbal, sosial, psikologis, hingga cyber-bullying di media sosial.
Beliau juga menyoroti fenomena offside-jokes atau candaan kelewat batas yang sering kali menjadi akar dari perundungan.
“Candaan sudah masuk kategori offside jika menyerang fisik atau identitas, membuat korban merasa malu dan tersisih, serta tetap diulang meskipun korban sudah menunjukkan ketidaknyamanan,” ujar Ibu Desi.
Peran Agen ROOTS: Pelopor, Pendamping, dan Pelapor
Melalui program ROOTS, siswa dilatih bukan untuk menghukum atau menangkap sesama teman, melainkan menjadi agen perubahan yang aktif melakukan sosialisasi anti-bullying dan membantu membuat sekolah menjadi tempat yang lebih aman.
Para Agen ROOTS diajarkan prinsip “AMAN” dalam mendampingi teman yang menjadi korban perundungan:
- A (Amankan): Mengamankan diri dan teman. Tidak ikut menertawakan atau menyebarkan konten negatif, serta segera mencari bantuan jika ada ancaman.
- M (Mendengarkan): Mendengarkan keluh kesah korban tanpa menyalahkan.
- A (Ajak): Mengajak korban untuk terhubung dengan orang dewasa yang dapat dipercaya, seperti guru penghubung.
- N (Nanti cek kembali): Memastikan kembali apakah teman tersebut sudah mendapatkan penanganan dan bantuan yang tepat.
Rangkaian Kegiatan dan Deklarasi Bersama
Kegiatan seminar ini diawali dengan registrasi peserta, pembukaan oleh MC, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Sekolah SMPIH, yang diwakili oleh Wakil Ketua Bidang Kesiswaan, Syafa’atun, S.Pd. Beliau berpesan agar seluruh peserta seminar mengikuti dengan baik dan tertib sehingga materi dapat diserap dan bermanfaat bagi semua. Beliau juga menghimbau agar tidak segan-segan menanyakan hal-hal yang dirasa belum dipahami kepada narasumber.
Setelah sesi penyampaian materi dan diskusi kasus interaktif selesai, acara mencapai puncaknya pada sesi Penandatanganan Deklarasi Anti Perundungan yang dilakukan oleh Jajaran Pimpinan Sekolah bersama seluruh anggota ROOTS. Deklarasi ini menjadi simbol komitmen nyata SMPIH dalam menolak segala bentuk perundungan.
Serangkaian acara seminar berjalan lancar, dan peserta terlihat antusias serta terlibat aktif mengikuti jalannya seminar. Sebagai langkah nyata pasca-seminar, para siswa yang tergabung dalam program ini diharapkan bisa bersama mewujudkan gerakan “ROOTS Bergerak: Sekolah Aman Dimulai dari Kita”








